Dalam Kasus Corona, Tuhan Bangsa Indonesia Dikarantina

MentariNews.Com – Apabila engkau Muhammad, melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka, hingga mereka beralih ke pembicaraan lain.

Dan jika setan benar-benar menjadikan engkau lupa akan larangan ini, setelah ingat kembali, janganlah engkau duduk bersama orang-orang yang zalim. Pesan suara itu datang dari suatu tempat, entah dari mana,  yang kami ingat hanyalah angka 6:68.

Duduk bersama dengan orang-orang zalim,  tidak deperbolehkan. Itu artinya harus jaga jarak sosial, tidak cukup satu depa atau dua depa, tetapi sejauh-jauhnya. Sekarang yang  kami saksikan, para pemimpin negara justru  berjabat tangan, bergandeng tangan dengan kaum yang selalu menyindir dan melecehkan terhadap perintah yang lurus.  Dalil pembenar pun dicari, demi infrastrutur, demi pembangunan ibukota yang jauh dari ancaman gempa, demi pertumbuhan ekonomi dua digit. Dan yang tidak kalah penting, demi menambah pundi-pundi kelompok dan memperbesar kantong-kantong pribadi.

Setelah bergandengan tangan, episode berikutnya adalah mengguting dalam lipatan. Lahiriah mengku teman batinnya musuh bebuyutan, kemudian aksinya adalah menusuk dari bekakang. Dan peradaban hewan pun kini mulai nampak. Anjing, kata Gus Miftah, dilempar batu, pasti yang dikejar batunya, bukan pelemparnya.

Dunia dilempar Corona yang dikejar atau yang dilawan Covidnya. Indonesia melawan Corona, dibungkus dengan jargon Bersama Pasti Bisa, sementara kasus positif merangkak ke angka 3000 lebih.

Manusia Indonesia tidak pernah bertanya kepada Sang Pemilik Wabah. Padahal fatwa konstitusi cukup jelas, Negara Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pucuk pimpinan Nasional tidak ada instruksi apa pun agar warga negara kembali bertanya kepada Tuhan yang diagungkan sesuai dengan keyakinan  masing-masing.

Dalam kasus Corona, Tuhan disembunyikan, dikarantina, supaya Dia tidak melakukan intervensi. Ini satu pertanda, kekuasaan rezim mulai goyah. Tidak sampai tahun 2024, boleh jadi rezim refornasi itu  roboh karena keruntuhannya  telah mereka bangun sendiri dengan cara bergandengan tangan dengan kaum yang zalim.

Dulu, pada era Orde Lama jabat tangan itu diberi label NASAKOM (Nasional Agama Komunis). Kini, Pada masa Orde Reformasi diberi tajuk NASIKOM (Nasi di dalam Baskom). Sungguh, manusia lebih mengutamakan perut alias wadhuk  ketimbang hati yang selalu tawaduk.

Soal pandemi Corona, kembalikan dan tanyakan kepada Tuhan-Mu, mengapa pandemi panjang ini diturunkan ke bumi. Tidak ada artinya pamer dua ribu empat ratus lima triliun. Kekayaan Tuhan-Mu melampaui kekayaan manusia sejagat. Ajak rakyat Indonesia taubat nasuha, agar segera diberi ketentraman.

Berpikir praktisnya begini: tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara dari ancaman pandemi. Upayanya dilaksanakan melalui sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta, oleh Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia, sebagai kekuatan utama, dan rakyat, sebagai kekuatan pendukung. Brow, jangan lupa, itu perintah konstitusi.

Nyawa 262 juta ini mau diborong Makaikat Izro’il, kok para pemimpin masih sibuk menghitung kekayaan dan rugi laba? Kami yakin haqul yakin, duit yang  terkumpul selama mengurus Negara tidak akan menguap ke mana-mana. Rakyat tidak ingin meminta sepeser pun, karena mereka tahu kekayaan itu akan menjadi teman setia bagi para pemimpin yang berhati panas, saat berada di tempat yang panas.

Ditulis oleh: Bambang Wahyu Widayadi (eks Guru SMA Muhammadiyah Wonosari / senior Wartawan Gunungkidul)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan