Immawan Wahyudi Sang Kuda Hitam di Pilbup Gunungkidul

Dan mereka membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya mereka. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (QS. Ali Imran: 54)

Immawan Wahyudi, Wakil Bupati Gunungkidul adalah seorang kader PAN dan kader Muhammadiyah. Tulen. Tidak ada keraguan tentang itu. Immawan Wahyudi adalah Ketua DPW PAN DIY dua periode (2005-2009 dan 2009-2014). Hingga saat ini pun beliau masih menjadi Ketua Majelis Pertimbangan Partai DPW PAN DIY.

Di lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah, rekam jejak Immawan Wahyudi malah jauh lebih dalam dan lebih panjang. Sebagai bukti bahwa Immawan sejak muda telah aktif dalam pengabdian kepada Persyarikatan, jejak yang tertinggal bukan lagi di level Wilayah, Immawan bahkan pernah menjadi Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. Saat ini Immawan Wahyudi adalah Wakil Bupati Gunungkidul.

Namun, dengan rekam jejak sebagai seorang kader partai tulen serta ditambah dengan posisinya saat ini sebagai Wakil Bupati, PAN tidak mengusungnya dalam kontestasi Pilkada Gunungkidul yang akan datang. Alih-alih mengusung Immawan, PAN justru memutuskan mengusung pasangan Soetrisno – Mahmud Ardi Widanto bersama PKS, Demokrat, dan Gerindra. Konon alasannya, PAN yang dalam keputusannya memutuskan akan mengusung calon bupati, kesulitan mendapatkan mitra kolalisi jika mengusung Immawan. Kesulitan itu konon tidak dapat dilepaskan dari kekhawatiran banyak pihak, apabila PAN mengusung Immawan dan mendapatkan koalisi, maka akan sulit dibendung. Kombinasi popularitas, elektabilitas, dan mesin partai yang solid akan sulit dilawan.

Pasca kongres PAN di Kendari, terjadi perubahan angin politik di tubuh PAN yang pada akhirnya berdampak pada kontestasi Pilkada di DIY. Mahmud Ardi, Ketua DPD PAN Bantul yang sebelumnya sudah mendapatkan rekomendasi dari DPP PAN untuk maju di Kabupaten Bantul, gagal mendapatkan pasangan calon dan koalisi di Bantul. Sampai sekarang pun posisi PAN di Bantul tidak jelas. Tapi tiba-tiba nama Ardi muncul dalam bursa Pilkada Gunung Kidul sebagai calon wakilnya Soetrisno. Bagi publik ini tentu membingungkan, namun bagi yang tahu bahwa Mahmud Ardi adalah putra Totok Daryanto, bendahara DPP PAN pasca Kongres Kendari, tentu tidak terlalu sulit memahaminya.

Berdasarkan dinamika politik sampai saat ini, Pilkada Gunung Kidul diperkirakan akan diikuti oleh empat pasangan calon. PDIP sebagai partai terbesar akan mengusung pasangan Bambang Wisnu – Bunyamin. Partai Golkar dan PKB akan mengusung pasangan Sunaryanto – Heri Susanto. PKS bersama Demokrat, Gerindra, dan PAN akan mengusung pasangan Soetrisno – Mahmud Ardi. Dan terakhir, Nasdem akan mengusung pasangan Immawan Wahyudi – Suharno.

Dari konfigurasi di atas, kepastian pencalonan diri Immawan selaku inkamben tentu bukan kabar yang menggembirakan bagi para kompetitor. Ada beberapa analisa untuk mengatakan hal itu. Pertama, sebagai inkamben, popularitas dan elektabilitas Immawan mengungguli calon- calon bupati yang lain. Hal itu bisa dilihat paling tidak dari hasil survey salah satu lembaga survey nasional beberapa waktu yang lalu. Kedua, kepastian majunya Immawan kabarnya tidak lepas dari restu dan dukungan yang diberikan oleh pendiri PAN Amien Rais yang sekarang berseberangan dengan DPP PAN. Dukungan Amien Rais pasti akan berpengaruh besar bagi akar rumput PAN sekaligus Muhammadiyah. Ketiga, faktor bupati Badingah.

Untuk diketahui, posisi Badingah sebelumnya adalah mendukung aktif Wahyu Purwanto yang direncanakan akan diusung Nasdem. Dengan batalnya Wahyu Purwanto mengikuti laga Pilkada, dukungan Badingah berdasar informasi dari kalangan dalam di Nasdem, akan diberikan kepada Immawan. Bahkan sangat mungkin Badingah akan berkampanye untuk Immawan. Keempat, faktor Nasdem. Dari semua partai-partai dan calon kandidat yang akan berlaga, Nasdem dan juga calon yang diusungnya saat itu, Wahyu Purwanto, merupakan Partai dan kandidat yang paling siap sejak awal. Ini tidak mengherankan, karena hanya Nasdem selama ini yang sudah sejak awal memastikan calonnya. Kemudian ditambah lagi dengan figur calon wakil bupatinya, Suharno yang merupakan sosok dengan basis masa dan jaringan yang mumpuni.

Dari gambaran variabel-variabel di atas, posisi Pasangan Immawan – Suharno yang muncul di detik-detik akhir sangat besar potensinya menjadi “kuda hitam” yang difavoritkan. Disisi lain, kemunculannya bisa menjadi angin segar bagi pasangan Bambang Wisnu – Bunyamin dan Sunaryanto – Heri Susanto, mengingat ceruk suaranya yang overlap dengan pasangan Soetrisno – Ardi.

Dan sebagai catatan dengan garis bawah yang tebal, kepastian majunya Immawan dalam kontestasi, secara khusus merupakan kabar buruk bagi PAN dan pasangan Soetrisno – Ardi. Restu dan dukungan yang diberikan oleh Amien Rais, pasti akan sangat berpengaruh terhadap pemilih PAN, terlebih Muhammadiyah. Apalagi kabarnya Amien Rais akan aktif berkampanye untuk Immawan. Minimal akan membuat suara PAN – apalagi Muhammadiyah akan terbelah dengan kecenderungan akan lebih besar ke Immawan. Alasan utamanya adalah, diantara delapan kandidat Bupati-Wakil Bupati, Immawan Wahyudi adalah satu-satunya yang dengan jelas dapat dianggap merepresentasikan Muhammadiyah. Bahkan lebih jauh lagi dapat dikatakan, diantara delapan kandidat yang berlaga, Immawan merupakan satu-satunya representasi kalangan santri. Bagi pasangan Seotrisno – Ardi tentu ini adalah problem yang sangat serius. Kalau toh Immawan belum tentu akan berhasil memenangkan Pilkada Gunung Kidul, tapi suramnya potensi perolehan suara pasangan ini sudah tergambar di depan mata. Apalagi popularitas dan elektabilitas pasangan ini masih dibawah pasangan-pasangan lain.

Dan Kabar yang akan lebih menyakitkan bukan tidak mungkin akan menimpa pasangan Soetrisno – Ardi. Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan masih mungkim akan berubah haluan. Setelah mencermati konfigurasi dan dinamika yang ada dan dengan memperhatikan segala kalkulasi pemenangan, akan sangat merugikan bagi PAN jika “memaksakan” mendukung pasangan calon yang potensi menangnya tipis.

Akan lebih bijaksana kalau PAN memutar haluan dengan menyatukan potensi yang ada dengan mendukung pasangan yang apabila didukung PAN akan bisa memberikan kepastian kemenangan. Hal itu tidak sulit untuk dilakukan mengingat kedekatan Zulkifli Hasan dengan Surya Paloh. Konon sebelumnya mereka sudah bersepakat berkoalisi dalam Pilkada Gunungkidul mengusung Wahyu Purwanto berpasangan dengan kader PAN. Dan yang paling penting adalah menyatukan potensi suara PAN dan Muhammadiyah. Akan sangat merugikan bagi PAN apabila dalam kontestasi Pilkada di DIY berbeda dukungan dengan Amien Rais dan membuat PAN terbelah. Wallahua’lam. (ys/red)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan