Kebiasaan Unggah-Ungguh Orang Jawa

MentariNews.ComApa itu unggah ungguh ? Unggah ungguh merupakan tingkah laku atau perbuatan manusia dalam kehidupan sehari hari. Pada umumnya unggah ungguh sudah di kenal oleh masyarakat jawa sejak dari zaman nenek moyang. Unggah ungguh secara bahasa, berasal dari dua suku kata yaitu kata unggah dan ungguh.

Kata unggah mempunyai makna munggah (naik/mendaki). Hal ini sudah menjadi kebiasaan orang bahwa Jawa dalam menghormati orang lain didasarkan oleh tingkat kedudukan, derajat yang tinggi. Sedangkan ungguh mempunyai makna bertempat sesuai dengan sifat sifatnya.

Padahal ini merupakan mayoritas orang Jawa yang selalu berhati hati dalam bertindak dan bersikap kepada siapapun. Unggah ungguh sendiri memiliki berbagai aspek dalam kehidupan sehari hari dan sifat unggah ungguh butuh pembiasaan dalam mengimplementasikan dalam kehidupan ini . Terutama bagi para orang tua yang memiliki anak anak yang masih kecil harus membiasakan anak anaknya dalam berunggah ungguh supaya dapat terbentuk nya generasi muda yang berkarakter dan tepat dalam berunggah ungguh.

1. Unggah-Ungguh dalam Aspek Berbahasa

Unggah ungguh atau sopan santun dalam berbahsa adalah penggunaan bahasa yang tepat, pemilihan kata kata dalam berbahasa yang harus benar sesuai dengan yang dipergunakan dengan siapa yang kita ajak ngobrol. Di masyarakat Jawa itu sendiri ada beberapa tingkatan dalam berbahasa seperti ngoko, madya, Krama.

  • Ngoko merupakan tingkat kesopanan berbahasa rendah yang biasa digunakan oleh raja terhadap rakyat biasa atau priyayi kepada wong cilik (orang kecil), maupun orang tua kepada anak yang lebih muda.
  • Tingkatan berikutnya adalah madya, yakni menyatakan kesopanan berbahasa tingkat menengah. Tingkatan madya biasanya digunakan oleh orang yang memiliki kedudukan atau usia yang setara.
  • Tingkat selanjutnya adalah krama, yaitu menyatakan tingkat kesopanan berbahasa paling tinggi. Kesopanan berbahasa tingkat tinggi ini biasanya digunakan oleh rakyat biasa kepada sang raja maupun pejabat-pejabat kerajaan atau oleh anak muda terhadap orang yang lebih tua dan sebagai bahasa pengungkapan sikap hormat .

Bahasa Krama pun ada tingkatannya lagi seperti Krama Alus dan Krama Inggil. Krama Inggil  Mengenai pribadi, tindakan-tindakan dan beberapa benda yang amat erat hubungannya dengan pribadi manusia serta mengungkapkan sikap hormat yang amat tinggi kepada orang yang sepuh atau tua . Maka dari itu penggunaan bahasa Jawa mengandaikan kesadaran akan kedudukan sosial masing-masing .

2 . Unggah ungguh dalam bergaul di lingkungan masyarakat .

Dalam bergaul dengan masyarakat, orang Jawa harus andap-asor (rendah hati) dan tidak boleh sombong. Dan orang Jawa harus peka terhadap lingkungan sekitar jika ada tetangga, saudara yang membutuhkan bantuan biasanya langsung tergerak hatinya untuk membantu sesuai dengan kemampuan dan tanpa pamrih. Tentunya dengan semangat gotong royong dan rasa solidarotas yang tinggi. (Hermawan)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan