Salafi dan Trilogi Islam Moderat

MentariNews.Com – Trilogi Gerakan Islam moderat yakni Muhammadiyah, NU dan MUI. Saya menyebutnya tiga pemain lama. Banyak jasa, tapi bisa saja akan dilupakan. Banyak amal usaha, tapi bisa saja akan menjadi semacam proyek tanpa ruh—banyak jamaah, tapi bisa saja hanya akan tinggal jumlah hitungan.

Kebutuhan ummat terus berubah dinamis dan cepat. Lantas kapan bisa merawat agar lestari. Kyai Dahlan dan Kyai Hasyim cukup fenomenal kenapa? Karena keduanya tahu kebutuhan jamaah di mana keduanya hidup dan tinggal. Pangkal soalnya adalah tak semua orang Muhammadiyah dan NU paham dengan pikiran keduanya. Ada yang menangkap sebagian, tapi ada yang tidak sama sekali.

Kyai Dahlan dan Kyai Hasyim, bukan hanya tau masalah, tapi juga memberi jawaban dan solusi atas kebutuhan umat. Dr Harry Kraemer seorang misionaris dari Belanda cukup jeli ketika menjelaskan kejeniusan Kyai Dahlan menjawab banyak masalah keumatan, tidak banyak berdebat tapi jitu menjawab. Gagasan Kyai Dahlan tentang tajdid banyak dipuji meski pada awalnya dilawan karena banyak melawan tabu. Sebut saja tentang sistem sekolah yang memadukan antara ilmu agama dan ilmu umum dalam satu atap yang kemudian menjadi model sekolah nasional, siapa yang tidak tahu?

Harry J Benda juga memberi apresiasi positif, bagaimana Kyai Hasyim berhasil mengelaborasi pikiran Islam klasik dalam sebuah harmoni yang menyehatkan. Bagi Kyai Hasyim, NU adalah jalan tengah semacam kompromi dari berbagai cara dakwah. NU adalah kontinuitas dakwah Wali Song, di mana budaya dan adat dijadikan media dan alat bukan tujuan—inilah kecerdasan sekaligus kearifan para ulama NU untuk melakukan percepatan islamisasi orang-orang Jawa yang dikenal sinkretis. Dengan demikian Islam cepat dikenal dan tidak elitis.

Muhammadiyah dan NU adalah pemain lama, mungkin juga sepasang klasik dan fenomenal. Mungkin itu sebutan yang membuat keduanya banyak lupa dan terjebak pada rutinitas. Tidak ada lagi hal baru karena semua yang dilakukan adalah pengulangan yang dilakukan oleh Kyai Dahlan dan Kyai Hasyim 100 tahun yang lalu.

MUI adalah Buya HAMKA membangun eksistensi di masa orde baru berkuasa, agar Islam tidak direduksi oleh pikiran global dan modernitas, membentengi umat Islam dari paham sekuler dan Krestenisasi yang mulai nakal. Tapi fatwa saja tak cukup, MUI sering ‘terlambat bangun’ dan gagap menghadapi banyak isu dan kepentingan internalitas sibuk dengan urusan kompromi karena selisih antar golongan yang terus. Ini problem klasik dan MUI sering tak hadir di saat dibutuhkan.

Fatwa MUI banyak yang sudah di makan jaman, Nico JG Kaptain, The Voice of Ulama menyebut bahwa fatwa MUI kerap tidak membumi alias elitis. Butuh ‘refresing’ agar kembali segar seperti pada masa Buya HAMKA. Jauh dari kepentingan politik, tidak tunduk pada kepentingan orang banyak tapi tegak di tengah tanpa kompromi, survive karena ber-intergritas tulis Buya Syafi’i Maarif, di iya kan Gus Mus. Akan halnya salafi / Salafy adalah ‘jalan pikir’. Jadi bukan gerakan amal. Tapi efektif, liat dan lincah. Mulanya Muhammadiyah adalah state of mind atau gerakan pemikiran sebelum dilembagakan. Kyai Dahlan bahkan sejak awal sudah mencemaskan ketika kita bakal hanya sibuk ngurus organisasi daripada gerakkan pemikiran atau state of mind.

Sebagai ‘jalan pikir’ atau gerakan pemikiran, Salafi tidak harus persis Muhammadiyah, dakwah Salafi tak butuh membangun Masjid, Universitas atau rumah sakit dengan biaya bermiliar-milyar, tapi cukup ‘men-salafi-kan’ orang-orang yang ada di dalamnya, pun tak harus meniru NU yang susah-susah urunan bikin pesantren, madrasah atau masjid dan sibuk ngumpulkan ribuan jamaah tahlil dan dzikir, tapi cukup mengubah jalan pikir orang Nahdhiyin menjadi Salafi, kuasai jalan pikirnya maka akan menguasai amal usahanya, demikian kira-kira.

Pada mulanya Muhammadiyah dan NU juga menawarkan ‘jalan pikir’. Sebelum keduanya membesar dan melamban karena kebanyakan amal usaha, keduanya sibuk ngurus amal usaha hingga lupa ‘jalan pikir’. Ini perbedaan mendasar antara trilogi gerakan Islam moderat (Muhammadiyah, NU, MUI) dengan pemain baru: Salafi. Cara yang ditempuh Salafi ini sangat efektif mengisi ruang kosong yang ditinggalkan MUHAMMADIYAH dan NU. Salafi menawarkan jalan pikir. Ini model lama yang dihidupkan kembali, bisa saja dia berbaju Muhammadiyah, punya NBM bersimbol matahari berkalung syahadat atau bersarung dan punya kartaNU bersimbol tali jagat tapi pola pikirnya ‘Salafi’. Ini yang banyak luput dari perhatian para pemain lama yang besar dan bangga dengan jumlah jamaah dan amal usahanya.

Jadi Salafi adalah gerakan pemikiran— maka model dakwahnya adalah inflitrasi, agitasi, dan propaganda teringat Muhammadiyah di tahun 30-an juga punya departemen agitasi dan propaganda yang bertugas membangun image dan braistorming. Dan saya pikir cukup sukses saat itu Muhammadiyah menguasai media, sudah punya majalah, buletin dan suhuf-suhuf yang disebar luas.

Pola dan strategi dakwah Salafi cukup ampuh karena diuntungkan dengan teknologi dan Salafi cukup pintar memanfaatkan, kaget saja tiba-tiba dimana-mana paham Salafy sudah menyebar seperti virus hinggap di setiap pikiran. Dan ini yang lambat disadari para pemain lama yang sibuk dengan urusan ‘birokrasi dan adminstrasi’. Ternyata modal ‘besar’ saja tak cukup.

Salafi tidak menawarkan sekolah, rumah sakit apalagi univeritas, tapi ‘jalan pikiran’ bahwa kemudian ada pesantren atau sekolah yang dibangun itu hanya produk atau washilah dari sebuah proses ‘jalan pikiran’ , bukan tujuan. Tapi saya tetap yakin, Muhammadiyah, NU dan MUI adalah pemain lama dengan gaya klasik, ibarat musik ketiganya adalah Beethoven atau Mozart punya penggemar fanatik yang tak gampang pindah sebab Salafi hanya euphoria sesaat, seperti dangdut koplo, membosankan dan cepat ditinggalkan karena berisik — 🙏🙏🙏

Ditulis oleh: @nurbaniiyusuf
(Komunitas Padhang Makhsyar)

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan